Dari Krayon hingga Bengbeng: Ketika Anak-Anak Belajar Mencintai Bumi


Penulis: Rinta Anjani

Pagi itu (24/01/2026) matahari bersinar cukup terik. Cahayanya hangat, cukup membuat embun-embun mengering lebih cepat. Angin juga berhembus lebih kencang dari biasanya, menggoyangkan pohon-pohon dengan begitu kencang, sesekali membuat daun-daunnya jadi gugur dan berserak di tanah. Namun, cuaca rupanya tidak menghapus tawa anak-anak untuk terus bergema mengisi penjuru ruang Yayasan Desa Tumbuh. Ya, tawa mereka lebih nyaring dari suara angin.

Hari ini Ruang Baca terasa ramai dan hangat. Ada sekitar dua puluh (20) anak datang, penasaran dengan tema yang dibawakan Sabtu ini tentang “Kecil-Kecil Jaga Lingkungan.” Alas duduk sudah digelar di halaman. Pukul 08.00 WIB, beberapa anak sudah melingkar dan duduk rapi, sebagian lain masih berlarian kecil, dan sebagian lain nampak tengah asyik mengerubungi satu buku interaktif yang tersedia di ruang perpustakaan.

Kegiatan kami mulai dengan read aloud oleh Mbak Shindi tentang menanam wortel. Buku yang dibaca menceritakan tentang memanfaatkan lahan sempit, memakai barang bekas sebagai pot, dan bagaimana tanaman butuh matahari, air, dan kesabaran untuk tumbuh.

“Aku suka wortel!” Beberapa anak menjawab dengan seragam dan saling menimpali ketika ditanya perihal siapa yang juga suka wortel. Saat ditanya “Kira-kira kalau wortel itu warnanya apa ya?”, hampir semua bersepakat menjawab oren. Namun ada seorang anak barisan depan menjawab, “Ada yang warna putih”. Lantas tawa mereka meledak sambil bertanya-tanya, “Apakah benar ada wortel yang warnanya putih?”. Bahu-bahu mungil itu bergetar menahan geli.

Angin berhembus semakin kencang ketika masuk sesi ice breaking yang dipimpin oleh Syarif. Permainan sederhana, tapi benar-benar menguji fokus. Setiap kali ada yang salah gerak dan sebut, wajah mereka berubah dari yakin menjadi bingung, lalu malu, dan berakhir meledak tertawa. Ada yang menepuk jidat sendiri. Ada yang menutup muka pakai kedua tangan dan jongkok. Tawa mereka rekah, jujur, dan tanpa beban. Suasana terasa lebih ringan.

Tak lama kemudian, Dr. Sakdullah, S.T.,M.Sc. dari Balai Perbenihan Tanaman Hutan/BPTH Wilayah III, Kementerian Kehutanan (BBPSIK) datang membersamai anak-anak. Beliau melangkah masuk dengan tenang, senyum tipis di wajahnya. Bukan senyum lebar, tapi cukup hangat untuk membuat suasana perlahan hening. Menarik sekali melihat perubahan anak-anak.

“Selamat pagi anak-anak.”

“Pagi, Pak.” Jawab anak-anak, kali ini lebih pelan, tapi kompak. Nada mereka terdengar hormat, bukan takut.

Dr. Sakdullah, S.T.,M.Sc. sedang memperkenalkan diri kepada anak-anak

Beliau mulai menjelaskan tentang lingkungan hidup berupa biotik, abiotik, dan komunitas. Bahasanya sederhana. Tangannya sering bergerak membantu menjelaskan, seperti menggambar di udara. Saat menyebut makhluk hidup, beberapa anak menunjuk temannya sambil berbisik, “Itu biotik!” Saat mendengar benda mati, ada yang mengangkat tangan seolah berlomba, “Ini abiotik!” Mata mereka berbinar tiap merasa berhasil menebak.

Dahi yang tadi berkerut perlahan mengendur. Bahu yang tegang mulai santai. Rasa paham itu terlihat jelas di ekspresi kecil mereka.

Kemudian beliau mengajak anak-anak menggambar lingkungan sekitar. Begitu kertas dibagikan, suasana berubah lagi. Hening. Hanya terdengar suara gesekan krayon. Ada yang memiringkan kepala sangat dalam. Ada yang memegang krayon dengan dua tangan karena terlalu bersemangat. Ada yang mengambar sambil telungkup merebahkan diri. Ada yang fokus mengambar sketsa depan bangunan LDT. “Kenapa tidak sekalian menggambar sketsa bangunannya?” tanyaku. Ia bergumam jika menggambar sketsa bangunan masih terlalu susah untuknya. Ia lebih memilih menggambar tanaman di depannya saja, katanya.

Anak-anak menerima spidol/krayon dari Pak Sakdullah untuk menggambar sesuai tema yang diberikan

Ketika Pak Sakdullah mengeluarkan hadiah Bengbeng, reaksi mereka lucu sekali. Mata langsung membesar. Alis terangkat. Beberapa berbisik, “Bengbeng… bengbeng…” Ada yang refleks duduk lebih tegak, seolah postur tubuh yang rapi bisa membantu menang. Tapi yang paling menyentuh, mereka tetap menggambar serius , bukan terburu-buru. Banyak dari mereka menggambar gunung, matahari, sawah, rumah, dan manusia di dalamnya.

Ketika pemenang diumumkan berdasarkan kelengkapan unsur tema yang diberikan, bukan “bagus atau jelek”, wajah-wajah yang tadinya tegang langsung melunak. Tak ada cemberut. Hanya senyum kecil menerima. Dan saat semua anak tetap mendapat Bengbeng yang sama, ruangan meledak bahagia. Beberapa anak memeluk snack itu seperti harta karun. Ada yang langsung membuka bungkusnya dengan tergesa. Ada yang menyimpannya di tas, “buat nanti.”

Sesi berlanjut dengan pembahasan kesehatan lingkungan, lalu rangkuman. Saat ditanya, “Kenapa kita harus jaga lingkungan?” Jawaban mereka kini lebih mantap.

“Biar nggak banjir!”

“Biar sehat!”

“Biar tanamannya hidup!”

Nada mereka bukan lagi menebak, tapi yakin. Di akhir sesi, Bengbeng yang tersisa dibagikan lagi. Sorak kecil terdengar. Tangan-tangan terulur cepat. Mata mereka berbinar seperti baru saja memenangkan sesuatu yang besar. Padahal sederhana. Tapi mungkin memang kebahagiaan anak selalu sesederhana itu.

Kami menutup hari dengan foto bersama. Beberapa anak membuat tanda peace. Ada yang salah lihat kamera. Ada yang tertawa ketika difoto.

Hari ini aku belajar banyak hal. Namun ada satu hal yang membekas dalam renunganku bahwa anak-anak selalu merespon dunia dengan tubuhnya terlebih dahulu, dengan mata yang berbinar, bahu mungilnya, senyum yang muncul dengan hangat. Dan mungkin itu yang membuat belajar bersama mereka terasa lebih tulus.

Dari semua yang telah terjadi hari ini, aku percaya bahwa bukan hanya materi pembelajaran yang akan mereka ingat, tapi rasa diperhatikan, dihargai, dan dilibatkan.

Terima kasih. Bersama mereka aku ikut merasa lebih hidup. lebih hadir. Lebih utuh.

Hiduplah hidup tawa anak-anak yang menggema setiap sabtu pagi. Semeriah atau sesederhana mungkin, kalian semua tetap pantas dilihat dan dirayakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *