Ruang Baca yang Hidup: Tempat Anak-Anak Bermain, Membaca, dan Bertumbuh

Penulis: Alza Yunanda Nuril Huda

Sabtu pagi itu, 31 Januari 2026, ruang baca Yayasan Literasi Desa Tumbuh menjelma menjadi ruang yang hidup. Bukan hanya dipenuhi rak buku dan alas duduk sederhana, tetapi juga oleh suara tawa yang bersahutan, langkah-langkah kecil anak-anak yang berlarian, serta bunyi halus lembaran buku yang dibuka dengan rasa ingin tahu. Sejak awal kegiatan dimulai, suasana hangat terasa begitu kuat—sebuah ruang yang tidak sekadar menghadirkan buku, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang ramah dan menyenangkan bagi anak-anak.


Di pos bermain, anak-anak diajak menyelami dunia permainan tradisional yang sarat makna kebersamaan. Ular tangga yang difasilitasi Eci bukan sekadar permainan naik-turun angka, tetapi juga ruang belajar tentang kesabaran, giliran, dan strategi sederhana. Setiap lemparan dadu disambut sorak kecil, setiap langkah maju dirayakan bersama, dan setiap “turun” menjadi bahan tawa tanpa rasa kecewa. Di sudut lain, congklak—atau dakon—yang dipandu Ummi menghadirkan suasana kompetitif yang seru. Anak-anak belajar berhitung, membaca peluang, dan menerima kalah-menang dengan sportif, sambil tetap tertawa dan saling menggoda dengan polos.

Keseruan anak-anak bermain ular tangga.(Dok. LDT)


Permainan engklek dan damdaman mengajak anak-anak bergerak lebih aktif. Tubuh mereka melompat, berlari, dan menyeimbangkan diri, sementara suara sorakan teman-teman menjadi penyemangat alami. Permainan ini tidak hanya melatih koordinasi dan ketangkasan, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan—bahwa bermain bukan soal menang sendiri, melainkan tentang hadir dan bergerak bersama. Di sudut yang lebih tenang, mainan kecil yang difasilitasi Mutia menjadi ruang eksplorasi imajinasi. Anak-anak bebas mencipta cerita versinya sendiri, menyusun, membongkar, lalu menyusun kembali, seolah dunia kecil itu adalah milik mereka sepenuhnya.


Di tengah hiruk-pikuk bermain, kegiatan membaca tetap menjadi jantung acara. Pada sesi read aloud, anak-anak duduk melingkar, sebagian bersandar, sebagian lagi maju mendekat. Cerita dibacakan dengan intonasi yang hidup dan ekspresi yang mengundang perhatian. Anak-anak tidak hanya mendengar; mereka ikut terlibat—menjawab pertanyaan, menebak kelanjutan cerita, bahkan tertawa atau terdiam saat bagian tertentu menyentuh rasa ingin tahu mereka. Momen ini menjadi ruang dialog kecil antara buku dan pembacanya, di mana imajinasi tumbuh tanpa paksaan.


Sesi dongeng kemudian melengkapi suasana. Cerita yang disampaikan bukan sekadar hiburan pengisi waktu, melainkan sarat nilai dan pesan moral yang diselipkan dengan halus. Anak-anak diajak memahami tentang keberanian, kejujuran, empati, dan pentingnya berbagi—semua disampaikan melalui kisah yang dekat dengan dunia mereka. Mata-mata kecil itu berbinar, seolah setiap cerita membuka jendela baru tentang kemungkinan dan harapan.


Ruang baca hari itu menjadi bukti bahwa literasi tidak harus hadir dalam bentuk yang kaku dan serius. Ia bisa tumbuh dari tawa, dari permainan sederhana, dari cerita yang dibacakan dengan sepenuh hati. Bermain, membaca, dan mendengar cerita berpadu menjadi satu pengalaman utuh—menciptakan ruang belajar yang ramah, hangat, dan penuh makna. Di sanalah benih-benih cinta pada literasi perlahan ditanam, tumbuh dari pengalaman yang menyenangkan, dan kelak mungkin akan berakar kuat dalam perjalanan hidup anak-anak itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *