Penulis: Naufal
Hari itu, Sabtu 17/01/2026, kegiatan ruang baca terasa berbeda. Sejak awal dimulai, ruang itu tidak hanya dipenuhi anak-anak yang datang dan duduk, tetapi oleh energi yang hidup dan mengalir. Ada rasa antusias yang terasa sejak langkah-langkah kecil mereka memasuki ruang baca—mata yang berbinar, tubuh yang bergerak aktif, dan rasa ingin tahu yang tampak jelas. Bagi saya, suasana ini menjadi penanda bahwa ruang baca tidak sekadar berfungsi sebagai tempat berkumpul, melainkan sebagai ruang pengalaman yang benar-benar dihidupi oleh anak-anak.
Pada sesi read aloud, anak-anak tidak diposisikan sebagai pendengar pasif. Mereka diajak menyelami cerita, memahami perasaan tokoh, dan menanggapi alur dengan cara mereka sendiri. Beberapa anak spontan menjawab pertanyaan, sebagian lain mengangguk pelan atau tersenyum ketika cerita menyentuh emosi mereka. Dari momen-momen kecil ini, saya melihat bagaimana literasi yang hidup mampu menumbuhkan empati dan kepekaan rasa. Membaca tidak lagi berhenti pada pengenalan huruf dan kata, tetapi menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran, sikap, dan cara memandang dunia.

Suasana kemudian semakin cair melalui sesi ice breaking dan permainan bersama. Anak-anak bergerak lebih bebas—tertawa, berteriak kecil, saling menyemangati. Ekspresi mereka lepas, tanpa beban, seolah ruang baca benar-benar menjadi ruang aman untuk menjadi diri sendiri. Keceriaan ini bukan sekadar selingan, melainkan jembatan penting yang membuat anak-anak lebih siap menerima pengalaman belajar berikutnya.
Pada sesi eksperimen warna, anak-anak diajak mengenal perbedaan antara pewarna buatan dan pewarna alami. Mereka diperkenalkan pada bahan-bahan yang sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari: kunyit, buah naga, bunga telang, dan daun pandan. Menariknya, sebagian besar anak sudah mengenal bahan-bahan ini secara visual. Namun, ketika proses ekstraksi warna dimulai—dengan aroma yang kuat dan proses yang tidak instan—muncul berbagai reaksi. Ada yang menutup hidung, ada yang mengernyit, ada pula yang tertawa karena merasa asing dengan pengalaman tersebut.
Dari sini, anak-anak belajar satu hal penting: bahwa sesuatu yang alami tidak selalu langsung nyaman dan menyenangkan. Prosesnya bisa merepotkan, aromanya tidak selalu disukai, dan hasilnya tidak secepat bahan buatan. Namun justru di situlah nilai pembelajaran muncul—bahwa yang alami sering kali lebih aman dan lebih baik bagi tubuh, meski menuntut kesabaran dan keterbiasaan.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan mengamati kebiasaan jajan anak-anak. Bersama-sama, mereka diajak mengenali komposisi snack dan minuman yang sering mereka konsumsi. Saat membaca label dan menemukan nama-nama bahan yang asing di telinga, anak-anak mulai bertanya dan berdiskusi. Beberapa tampak terkejut, sebagian lain mulai menyadari bahwa tidak semua makanan dan minuman yang beredar aman untuk dikonsumsi, terutama jika dikonsumsi terlalu sering atau berlebihan.
Dari respons anak-anak itu, saya melihat benih kesadaran mulai tumbuh. Kesadaran yang sederhana, tetapi penting: bahwa apa yang masuk ke dalam tubuh perlu diperhatikan. Bahwa pilihan kecil sehari-hari—seperti jajanan dan minuman—memiliki dampak jangka panjang, terutama bagi kesehatan anak.
Dari seluruh rangkaian kegiatan hari ini, saya semakin yakin bahwa literasi tidak harus selalu hadir dalam bentuk yang serius dan kaku. Literasi bisa tumbuh melalui pengalaman langsung, percakapan ringan, eksperimen sederhana, dan hal-hal yang dekat dengan kehidupan anak sehari-hari. Ruang baca, dengan pendekatan seperti ini, mampu menjadi ruang penyadaran yang nyata—tidak hanya bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang tua dan pendamping.
Kesadaran kecil yang lahir hari ini mungkin tampak sederhana. Namun justru dari kesadaran-kesadaran semacam inilah perubahan perlahan bisa dimulai: tentang memilih dengan lebih bijak, tentang memahami tubuh sendiri, dan tentang menjaga masa depan anak-anak melalui hal-hal paling dekat dengan kehidupan mereka.
Foto: Dokumentasi LDT

