Di Balik Senyum di Atas Panggung: Perjalanan Anak-Anak Aksaratari Menjemput Mimpi

Kamis malam itu (2/7/2026), halaman Omah Tumbuh Betakan terasa sedikit berbeda. Biasanya, malam hanya diisi suara jangkrik yang bersahut-sahutan, sesekali ditemani koak katak dari sawah di seberang. Namun malam itu, tawa riang anak-anak Aksaratari ikut menghidupkan suasana. Canda mereka berpadu dengan hangatnya kebersamaan, menghadirkan energi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Potongan martabak manis, tahu crispy yang masih hangat, dan siaran televisi menjadi teman sederhana untuk menghabiskan malam. Mereka duduk melingkar, saling bercerita, bercanda, dan sesekali membayangkan seperti apa panggung besar yang akan mereka pijak keesokan harinya. Semangat mereka terlalu besar untuk segera memejamkan mata. Esok adalah hari yang telah lama mereka nantikan: tampil pada Opening Ceremony Brain Awareness Week dalam rangkaian July Transformation Series 2026 di Taman Budaya Yogyakarta.

Meski malam berlalu dengan penuh tawa hingga larut, semangat mereka tidak ikut surut. Tepat pukul 03.30 dini hari, satu per satu anak mulai terbangun. Misi pertama telah menanti: dirias dan mengenakan kostum.

Tim dari Lestari Kostum datang tepat waktu. Sapuan demi sapuan kuas makeup menghiasi wajah-wajah mungil itu. Rambut disasak dengan telaten, setiap helai kain dikenakan dengan rapi hingga membentuk penampilan yang anggun. Perlahan, anak-anak yang semula datang dengan wajah polos berubah menjadi para penari yang siap menyapa panggung.

Begitu proses rias selesai, halaman Omah Tumbuh Betakan berubah menjadi studio foto dadakan.

“Mbak, tolong fotokan aku!”

“Mbak, gantian ya… aku mau foto di sana!”

Permintaan itu terdengar berkali-kali. Rasanya sangat wajar. Siapa pun yang merasa tampil cantik tentu ingin mengabadikan momen terbaiknya. Tawa kembali pecah, kali ini diiringi kilatan kamera ponsel yang sibuk menangkap senyum-senyum penuh percaya diri.

Tak terasa matahari mulai meninggi. Waktunya berangkat menuju Taman Budaya Yogyakarta.

Namun perjalanan pagi itu tidak semudah yang dibayangkan. Lalu lintas Yogyakarta yang padat membuat rombongan harus berjibaku dengan kemacetan. Jarum jam terus bergerak, sementara kendaraan masih merayap perlahan. Lima menit sebelum acara dimulai, kami masih berada di tengah kemacetan. Telepon berkali-kali berdering. Rasa cemas mulai menyelimuti karena para tamu undangan dan peserta telah hadir memenuhi lokasi acara.

Syukurlah, tepat beberapa saat sebelum acara dimulai, rombongan akhirnya tiba. Tidak ada waktu untuk berlama-lama. Anak-anak segera bersiap, mengambil posisi, menarik napas, lalu melangkah menuju panggung.

Di hadapan para tamu undangan dari DP3AP2 Daerah Istimewa Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Gendara, berbagai instansi mitra, serta peserta Kisah Otak, enam penari kecil dari Aksaratari mempersembahkan penampilan terbaik mereka. Gerakan demi gerakan yang selama berbulan-bulan dilatih akhirnya tersaji dengan penuh percaya diri.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah pertunjukan tari berdurasi beberapa menit. Namun bagi anak-anak Aksaratari, penampilan itu adalah buah dari keberanian, kedisiplinan, latihan yang panjang, dan proses belajar untuk percaya pada diri sendiri.

Ini merupakan kali kedua mereka tampil di luar “kandang” Yayasan Literasi Desa Tumbuh. Pengalaman menari di panggung sebesar Taman Budaya Yogyakarta menjadi langkah penting dalam perjalanan mereka sebagai pembelajar seni. Terlebih lagi, dapat menampilkan karya di hadapan Gusti Kanjeng Ratu Gendara menjadi pengalaman yang akan mereka kenang untuk waktu yang lama.

Di balik setiap senyum di atas panggung, ada pagi yang dimulai sebelum matahari terbit. Ada perjalanan yang diwarnai kecemasan, latihan yang tak terhitung jumlahnya, serta kebersamaan yang membuat setiap tantangan terasa lebih ringan.

Kami percaya, pendidikan seni bukan sekadar melahirkan penari yang mampu menghafal gerak. Seni menumbuhkan keberanian untuk tampil, melatih disiplin, membangun kerja sama, dan mengajarkan anak-anak bahwa setiap proses pantas diperjuangkan.

Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Semoga anak-anak Aksaratari terus tumbuh menjadi pribadi yang berani berkarya, mencintai budaya, dan percaya bahwa mimpi-mimpi besar dapat dimulai dari sebuah halaman sederhana bernama Literasi Desa Tumbuh.

Shindi Shintia Kristi

(Alumni ISI Solo, Pembina Aksaratari)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *