Sabtu, 18 April 2026, suasana di Ruang Baca terasa berbeda dari biasanya. Ruang yang biasanya diisi dengan kegiatan membaca dan aktivitas sejenisnya kini berubah lebih meriah penuh warna, tawa, dan jejak-jejak kecil yang berlarian ke sana kemari. Hari itu, Ruang Baca akan melaksanakan perayaan Hari Kartini melalui berbagai lomba yang sudah dirancang oleh para volunteer.
Sebanyak 25 anak hadir memeriahkan kegiatan. Jumlah ini lebih banyak dari biasanya, membawa energi yang langsung terasa sejak awal acara dimulai. Sapaan riang, canda ringan, hingga antusiasme yang terpancar dari wajah mereka menciptakan suasana yang hidup. Para volunteer pun ikut larut, mendampingi sekaligus menikmati setiap momen yang bergulir.
Berbagai lomba dihadirkan untuk mengisi kegiatan perayaan Hari Kartini. Di mulai dari lomba fashion show, anak-anak secara berurutan berlenggak-lenggok di atas rumput hijau. Iringan musik yang bergema bercampur dengan riuhnya teriakan anak-anak serta suara alam berupa kicauan burung mewarnai pagi yang cerah tersebut. Ada yang penuh percaya diri, ada juga yang masih canggung namun tetap mencoba. Tidak semua berjalan sempurna, tidak semua terlihat siap sejak awal, tetapi setiap usaha yang mereka tunjukkan menghadirkan cerita tersendiri. Tepuk tangan dan sorakan sederhana dari teman-temannya menjadi dukungan kecil yang berarti.
Kemudian, anak-anak dibagi menjadi 2 kategori. Anak-anak di bawah enam tahun mengikuti lomba biskuit muka dan puzzle cangkang telur. Dengan ekspresi serius bercampur menggemaskan, mereka mencoba menyusun potongan-potongan kecil
cangkang telur dan menempelnya di sketsa gambar Ibu Kartini dengan cara mereka sendiri. Terkadang hasilnya memang belum sempurna, tetapi justru di situlah tercipta keseruan dan tawa yang muncul tanpa dipaksakan.
Sementara itu, anak-anak di atas enam tahun mengikuti lomba trenggiling dan baca puisi. Dalam lomba trenggiling, mereka masuk ke dalam sebuah kardus dan menggerakkan tubuh untuk mengguling hingga garis finish. Pada lomba baca puisi, satu per satu anak maju ke depan. Ada yang berbicara lantang, ada pula yang masih pelan dan ragu, namun tetap berusaha menyelesaikan penampilannya. Setiap langkah kecil itu menjadi bagian dari proses belajar yang berharga.
Di tengah riuhnya kegiatan hari itu, tersimpan banyak hal yang mungkin terlihat kecil dan sederhana, tetapi sesungguhnya bermakna. Ada anak yang awalnya diam, lalu perlahan berani ikut serta. Ada yang ragu, namun tetap mencoba. Ada pula yang dengan polosnya menjawab pertanyaan atau menanggapi sesuatu dengan caranya sendiri. Hal-hal kecil seperti ini menjadi “nyala-nyala kecil” yang tidak selalu disadari, tetapi perlahan menumbuhkan keberanian dan kepercayaan diri.
Hari Kartini tidak hanya tentang mengenang sosoknya dalam sejarah, tetapi juga tentang melihat bagaimana semangatnya terus hidup dalam keseharian serta keberanian perjuangannya. Pada anak-anak hari itu, semangat tersebut hadir dalam bentuk yang sederhana dalam tawa yang lepas, dalam usaha yang mungkin masih terbata, dan dalam keberanian untuk melangkah meski belum sepenuhnya yakin. Dari hal-hal kecil inilah, nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini perlahan tumbuh dan menemukan maknanya.
Melalui perayaan ini, Literasi Desa Tumbuh tidak hanya menghadirkan kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar menjadi diri mereka sendiri. Di sanalah nyala-nyala kecil itu tumbuh pelan, sederhana, namun penuh arti. Mungkin belum terlihat besar, tetapi cukup untuk menjadi awal dari sesuatu yang kelak akan berkembang lebih jauh layaknya Ibu Kita Kartini.
Nurrohmi Fitria Latifah, Volunteer Ruang Baca (Mahasiswa Manajemen Universitas Gadjah Mada)

